Haruskah Dengan Party ?

Party….sepertinya sudah menjadi suatu momen yang wajib bagi ketika ada perpisahan sebab mutasi ataupun purna bakti, ketika mendapatkan fee atas pekerjaan yang rampung dan lain-lain. Perayaan yang sering kita dengar dengan sebutan farewell party family gathering, temu pamit, atau sejenisnya diadakan di sebuah hotel mewah ataupun restoran wah dengan menghadirkan electon tunggal lengkap dengan biduanita yang seksi menggoda. Biasanya pada momen ini setiap orang dipaksa unjuk kebolehan entah itu nyanyi, joget, lawak, dan lain-lain sambil menikmati makanan yang berlimpah dengan menu pilihan yang jarang kita dapatkan dalam keseharian. Berapakah dana yang dianggarkan? Hhmmm…..kalkulasi yang sangat berarti buat yang lebih membutuhkan.

Ada yang terasa perih di jiwa ketika saya berada dalam momen seperti itu. Tidaklah mengapa jika itu menjadi salah satu wadah untuk saling menguatkan rasa kebersamaan, mempererat silaturahmi, sarana untuk bersosialisasi Dengan alasan itulah sebagian besar orang berpopini bahwa ‘party’ adalah sesuatu yang penting.

Tanyalah pada mata kita yang pada momen itu tak pernah lepas dari lekuk tubuh biduanita yang segar dan cantik. Tanyalah pada lidah kita atas ucapan yang terurai menjadi kata, menjadi tawa pada momen itu adalah haq. Tanyalah pada tubuh kita atas gerakan yang kita ciptakan saat momen itu berlangsung. Tanyalah pada kecil jiwa kita atas susutnya iman kita pada saat itu.

Namun, apakah ketidakmengapaan itu akan terus menjadi budaya, apabila di tengah-tengah musibah yang seolah tak pernah enggan menyapa, kita bersorak diatas perih orang lain. Pernahkah terlintas dalam benak apakah manfaatnya lebih besar dari mudharatnya?
Pernahkah berpikir tentang cerita orang-orang yang dirundung duka? Pernahkah jiwa ini berniat mengulurkan tangan untuk memberi sekedarnya atau jika tak punya sesuatu yang diberi adakah lisan ini melantunkan sebait doa untuk mereka-mereka yang penuh dengan linangan airmata? Pernahkah…. Atau apakah hati ini sudah sedemikian tak peduli?
Jika ketidakmengapaan itu terus dipupuk, ketika ada kondisi yang memicu perayaan maka menjadi hal yang aneh dan berada dalam posisi gunjingan jika tidak mengadakan suatu party meski hanya kecil-kecilan (sebut saja bancakan). Kenyamanan kita terancam. Akankah kita akan menjadi generasi-generasi party. Generasi-generasi yang menutup mata dan hati atas keperihan orang lain?

0 komentar



Recommended Money Makers

  • Chitika eMiniMalls
  • WidgetBucks
  • Text Link Ads
  • AuctionAds
  • Amazon Associates