Semburan Berhenti Setengah Jam

Ahli Geologi Malah Khawatir
SIDOARJO - Setelah keluar tanpa henti selama 294 hari sejak 26 Mei 2006, semburan di titik pusat banjir lumpur sempat berhenti kemarin. Kejadian itu berlangsung sekitar setengah jam, yakni pukul 11.25 sampai pukul 12.00. Karena kali pertama terjadi, para pekerja di sana menghentikan aktivitas. Mereka khawatir terjadi sesuatu.

Saat semburan lumpur berhenti, secara kasat mata tak terlihat letupan dan aliran lumpur seperti biasanya. Pusat semburan tampak tenang, layaknya air danau. Hanya asap yang mengepul semakin besar dari pusat semburan.

Melihat hal yang tak biasa itu, sejumlah pekerja yang kebetulan berada di sekitar pusat semburan segera ditarik. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi sejumlah kejadian buruk.

Menurut Ketua Tim Bidang Keahlian Pencitraan Bawah Permukaan Tim Insersi Bola Beton ITB Bagus Endar Bachtiar Nurhandoko, fenomena itu sangat mungkin terjadi akibat locking (penguncian) di saluran pusat semburan. "Saluran di dalam pusat semburan seperti terkunci atau tercekik," jelasnya.

Meski belum berani memastikan, Bagus menyebut fenomena serupa kerap terjadi di beberapa gunung berapi. "Namun, di sini langsung terlihat karena selalu dipelototi," katanya.

Bagus menjelaskan, di gunung berapi setelah terjadi fenomena locking, lantas muncul semburan yang memiliki intensitas di atas normal. Pada saat aliran semburan itu terkunci atau tercekik, bukan berarti semburan lantas berhenti. "Tekanan semburannya tetap ada," ungkap ahli fisika dari FMIPA ITB itu.

Saat itulah, lanjut dia, situasi yang terjadi sebenarnya cukup mengkhawatirkan. Bisa muncul semburan dengan intensitas lebih besar. "Biasanya terjadi collaps. Untungnya di sini kan tidak terjadi," ujarnya.

Setelah terhenti 30 menit, semburan kembali muncul dengan intensitas normal. Tak ada perubahan yang ekstrem. Hingga sore kemarin, aliran lumpur tetap mengalir seperti biasanya, terutama ke arah timur.

Menurut Bagus, tidak adanya perubahan ekstrem tersebut karena 374 bola beton yang telah dimasukkan ke pusat semburan berhasil meredam semburan lumpur setelah locking terbuka kembali. "Semoga selanjutnya tetap tak ada perubahan ekstrem," ungkapnya.

Dia menyebut, perubahan yang terlalu ekstrem sejak metode mengurangi volume semburan dengan bola beton dicoba memang dihindari. Menurut dia, pengurangan volume semburan yang didesain tim ITB memang diharapkan turun secara gradual. "Jadi, bukan sekaligus, kami malah menghindari," jelasnya.

Termasuk penurunan suhu lumpur di dalam maupun di sekitar pusat semburan. "Penurunannya pun kami harap sedikit demi sedikit," katanya.

Saat ini suhu di permukaan mencapai sekitar 89 derajat Celsius, sedangkan di kedalaman 10 meter suhu mencapai sekitar 95 derajat Celsius.

Hal itu disebabkan, kata dia, alam jangan sampai terkejut. "Dampaknya akan jauh lebih besar," ujarnya. Bagus mengibaratkannya dengan gerbong kereta api yang sedang berjalan. Bila kereta api itu dihentikan secara mendadak, ekor gerbong akan lari ke mana-mana. "Begitu pun lumpur di sini," sebutnya.

Dia memperkirakan, setelah metode bola-bola beton tahap pertama 374 untai bisa dimasukkan, penurunan volume semburan 1-2 bulan nanti diperkirakan turun hingga tinggal 20 ribu meter kubik per hari. "Itu semua hitungan kami di atas kertas," tandasnya.

Setelah tak ada perubahan yang ekstrem di sekitar pusat semburan, sejumlah pekerja hingga sore terlihat beraktivitas normal. Sebagian besar pekerja terus memperbaiki tanggul cincin.

Juru Bicara Timnas Penanggulangan Semburan Lumpur Rudi Novrianto menyatakan, timnas tidak mau gegabah menyimpulkan fenomena berhentinya semburan yang terjadi kemarin siang. "Kami masih akan mengkaji dulu sambil mencocokkan beberapa data," jelasnya.

Apakah ada hubungannya dengan insersi bola beton? Rudi tak mau menjawab panjang lebar. "Saya hanya berharap, yang terjadi tadi merupakan pertanda positif di sini," ujarnya.

Sementara itu, Amien Widodo, ahli geologi sekaligus kepala Pusat Studi Bencana Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), menyatakan bahwa ada berbagai kemungkinan terhentinya lumpur selama setengah jam itu. Kemungkinan terbesar adalah bola beton memang berhasil menyumbat aliran lumpur meski untuk sesaat. "Ini masih dugaan. Perlu penelitian dan pencarian referensi lebih lanjut mengenai hal ini," ujarnya.

Lebih lanjut, bapak dua anak itu menjelaskan, ada bahaya besar yang perlu diwaspadai jika aliran lumpur terhenti tiba-tiba. Mungkin terjadi ledakan sangat tinggi saat semburan lumpur turun drastis.

Namun, dia menyatakan, jika lumpur telah kembali menyembur, kemungkinan ledakan itu tidak akan terjadi. "Ledakan akan terjadi jika lumpur mendapat tekanan besar. Jika lumpur dapat mengalir lagi, berarti tekanannya telah menurun," jelasnya.

Selain ledakan, lanjut Amien, gas H2S yang keluar dari pusat semburan patut diperhatikan. Sebab, akhir-akhir ini volume gas beracun itu meningkat. Tetapi, dia belum dapat menjelaskan fenomena meningkatnya volume gas tersebut.

Pria kelahiran Jogja itu mengatakan bahwa gas keluaran semburan tersebut perlu mendapat perhatian khusus karena sangat berbahaya dan dapat menimbulkan kematian mendadak jika dihirup berlebihan.

Amien mengusulkan, seharusnya diberlakukan standar operasional prosedur (SOP) untuk memasuki wilayah pusat semburan. Dengan begitu, orang yang berada di daerah tersebut dapat terlindungi. (cie/dyn)
jawapos.com

0 komentar



Recommended Money Makers

  • Chitika eMiniMalls
  • WidgetBucks
  • Text Link Ads
  • AuctionAds
  • Amazon Associates