Tak Sebesar New York dan Tokyo, Lebih Mudah Dapat Barang Langka
Fenomena sneaker alias sepatu kets sedang heboh-hebohnya di dunia. Dan, Melbourne merupakan salah satu ibu kota sneaker dunia. Berikut catatan AZRUL ANANDA, wartawan Jawa Pos yang baru pulang meliput Grand Prix Australia.

Saya punya pengakuan: Saya seorang sneaker head. Sejak lama, saya sudah menjadi penggemar sepatu kets, membeli model-model yang unik dan lucu. Dalam dua tahun terakhir ini, hobi itu makin menggebu-gebu. Saya sekarang resmi mengoleksi sepatu kets, mulai model casual hingga basket.

Setiap mengunjungi negara lain, saya selalu berusaha menyempatkan waktu berburu sepatu. Tidak harus yang mahal, yang penting unik. Kadang jenis yang sulit didapat, kadang yang sedang diobral!

Sebelum meliput Grand Prix Australia, seri pembuka Formula 1 2007 akhir pekan lalu, saya sempat berkunjung dua hari di Tiongkok, berkumpul bersama keluarga di Kota Yantai. Di sana pun saya menyempatkan diri berburu sepatu. Ada dua merek yang saya incar: Li-Ning dan Peak.

Dua-duanya merek asli Tiongkok, dua-duanya siap go global dan bersaing dengan merek-merek kelas dunia seperti Nike dan adidas. Sekarang kedua merek itu sudah menembus liga basket paling top dunia, NBA, mensponsori bintang-bintang Amerika Serikat.

Li-Ning mensponsori Damon Jones dan Shaquille O’Neal dari Tim Miami Heat, plus tim nasional Spanyol yang merebut gelar juara dunia basket pertengahan 2006. Sedangkan Peak mendukung Shane Battier dari Houston Rockets.

Ketika tiba di Melbourne, saya semakin bersemangat. Ini merupakan kali keempat saya meliput GP Australia di sana, tapi yang pertama sejak 2003. Hanya dalam empat tahun, ada sesuatu yang baru di kota tersebut. Sekarang Melbourne merupakan salah satu ibu kota sneaker dunia. Setara dengan New York di Amerika Serikat, Tokyo, Jepang, dan London, Inggris.

Melbourne merupakan kota yang punya segalanya. Bagi yang suka olahraga, kota tersebut punya banyak even. Bersamaan dengan GP Australia, misalnya, Melbourne juga menyelenggarakan kejuaraan dunia renang. Bagi yang suka dugem, kota itu punya kehidupan malam yang "hidup". Shopping? Melbourne juga surganya. Toko-toko seru bertebaran di seluruh kota, mudah dicapai dengan berjalan kaki, atau menggunakan tram. Untuk makan, juga gampang. Apa saja ada, makanan Indonesia juga mudah didapat.

Untuk berburu sepatu kets? Melbourne sekarang benar-benar surga. Jaringan toko sepatu internasional, seperti Foot Locker dan Athlete’s Foot, menyediakan pilihan koleksi terbaru secara komplet. Belum lagi butik-butik khusus sneaker yang bertebaran, menyediakan koleksi-koleksi langka atau limited edition.

Asal tahu saja, majalah sneaker paling populer di dunia berasal dari Melbourne. Sneaker Freaker, majalah kecil itu, diterbitkan Simon Woody alias Woody of Melbourne. Sekarang Woody disebut sebagai salah satu dewa sneaker dunia. Majalahnya memberikan informasi tentang perkembangan sepatu di seluruh dunia, mulai jadwal peluncuran produk baru hingga petunjuk membedakan mana sepatu asli dan mana sepatu palsu.

Woody pula yang punya peran cukup besar dalam pameran sepatu kets, Sneakers: Classics to Customs, yang sekarang berlangsung di Melbourne. Tepatnya di National Gallery of Victoria. Pameran yang berlangsung hingga Juli nanti itu merupakan pameran sepatu kets pertama yang diselenggarakan di dalam galeri seni di Australia.

"Dalam hal ekonomi, kami (Melbourne, Red) sebenarnya kecil. Selain terisolasi secara geografis, seluruh populasi Australia sama jumlahnya dengan kawasan luas New York atau Tokyo. Tapi, dalam hal kualitas kolektor, Melbourne unggul jauh. Pengetahuan produk, antusiasme terhadap hobi, kami unggul," kata Woody, melalui buklet pameran. "Selain itu, berada di tempat yang kecil ada keuntungannya. Lebih mudah berburu sepatu seru di kota ini daripada di kota-kota lain yang saya tahu," tambahnya.

Memang, berburu sepatu di Melbourne, tampaknya, lebih mudah daripada di tempat lain. Ketika di New York tahun lalu, sulit mendapatkan barang koleksian karena banyak yang berburu dan barang segera habis begitu diluncurkan. Ketika di Tokyo beberapa waktu lalu, barangnya mungkin ada, tapi saya kesulitan mencari ukuran kaki saya, ukuran 45-46.

Di Melbourne, dengan hanya keliling setengah hari saja, saya sudah menemukan sepatu-sepatu yang selama ini hanya saya baca atau ikuti di internet. Ukuran pun mudah didapat. Memang, tidak semua mampu terbeli. Tapi, paling tidak saya pernah melihat dan memegang secara langsung.

Di kawasan kota, saya sempat memasuki beberapa toko. Di Foot Lockers, mata saya berbinar-binar melihat sejumlah sepatu basket keluaran terbaru yang limited edition. Di situ tersedia sederetan Nike Air Force 1 edisi khusus pemain NBA, yang dirilis bertepatan dengan NBA All-Star di Las Vegas Februari lalu. Di situ juga ada Nike Zoom LeBron IV All-Star Edition berwarna emas, plus Converse Wade 2.0 edisi All-Star yang dihiasi dengan cetakan bunga mawar di bagian samping. Di Amerika, sepatu-sepatu terebut bakal sulit didapat. Di Melbourne masih bisa didapat.

Ketika ke toko adidas, sejumlah sepatu All-Star dan Las Vegas Edition tersedia lengkap di sana. Di Indonesia, paling tidak di Jakarta dan Surabaya, sepatu edisi All-Star masih bisa didapat. Tapi, yang edisi Las Vegas belum tentu. Salah satu yang menarik adalah adidas T-Mac VI berwarna putih dengan hiasan uang dolar AS berwarna hijau dan bergambarkan wajah Tracy McGracy, pemain andalan Houston Rockets.

Itu di counter-counter resmi. Kalau ke butik sneaker, lebih banyak lagi sepatu aneh yang bisa didapat. Saya sempat mampir ke Hype DC di perempatan Swanston dan Bourke. Di situ ada sejumlah Nike Air Force 1 edisi terbatas, Puma dengan corak dan warna yang tidak umum, serta sejumlah Onitsuka Tiger dengan warna-warni mencolok (emas dan warna-warni tabrakan merupakan tren sneaker terbaru).

Selain di pusat kota, sneaker head juga bisa terpuaskan kesenangannya di kawasan Chapel Street. Salah satu jalan "gaul" itu memiliki banyak sekali butik sepatu. Produsen sepatu kadang meluncurkan produk baru di sana.

Sayang, kalau ingin berburu, waktu sehari mungkin tidak cukup. Masa belanja di Melbourne tergolong pendek, toko rata-rata sudah tutup pukul 6 sore.

Sayang kedua, harga-harga sepatunya juga lebih mahal daripada kota lain, khususnya di Amerika. Converse Wade 2.0 All Star, misalnya, di Amerika di-listing seharga USD 100 atau hampir Rp 1 juta. Di Melbourne, harganya hampir 200 dolar Australia.

Sepasang New Balance 992, sepatu jalan andalan produsen asal Boston, AS, juga lebih mahal. Di Amerika di kisaran USD 150 (hampir Rp 1,5 juta), di Melbourne lebih dari 250 dolar Australia.

Harga itu terasa makin mahal begitu menyadari betapa kuatnya dolar Australia saat ini. Sekarang nilainya sudah hampir setara dengan dolar AS, hampir Rp 8.000 per dolar Australia.

Dengan harga yang lebih tinggi, mungkin para sneaker head hanya bisa window shopping di Melbourne. Termasuk saya. Meski sempat mabuk sepatu dan tergoda memborong, saya akhirnya sadar diri dan hanya membawa pulang sepasang Nike Zoom LeBron IV All Star warna emas.

Tapi, paling tidak, saya mendapatkan banyak pengetahuan baru tentang koleksi sneaker. Khususnya ketika mengunjungi pameran di National Gallery of Victoria. (bersambung)

jawapos.com

0 komentar



Recommended Money Makers

  • Chitika eMiniMalls
  • WidgetBucks
  • Text Link Ads
  • AuctionAds
  • Amazon Associates